Monday, 18.30 pm
Helen
menutup pintu kamarnya dengan keras dan langsung
merebahkan dirinya di atas kasur. Sesekali ia melirik ke arah jarum jam di
dindingnya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Hembusan
angin malam menilik masuk ke lorong jendela kamar miliknya yang sedang
termenung sambil mencoret-coret buku tulis miliknya dengan guratan emosi yang
kapan saja bisa meledak.
“Tok,
tok, tok.” Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk.
Enggak dikunci!”
“Tok,
tok, tok.”
Helen
mengerutkan keningnya. Dengan
jengkel, ia beranjak ke arah pintu kamarnya.
“GUE
KAN UDAH BILANG KALAU PINTU ENGGAK DIKUNCI. TINGGAL MASUK AJA, KOK SUSAH BANGET
SIH!” jawab Helen ketus.
Alice tersentak kaget. Sahabat sejak kecilnya
sesaat terdiam mendengar celotehan Helen.
“Sorry
Al, gue kira siapa tadi,” sesal Helen.
“Enggak papa. Maaf, kalau gue datang di
saat yang kurang tepat. Gue cuma mau mengajak lo untuk datang ke Persekutuan
Oikumene. Lo datang kan, Helen?” ajak Alice.
Persekutuan
Oikumene merupakan
sebuah kumpulan muda-mudi di sekitar jalan Perintis. Persekutuan ini biasanya
diadakan setiap hari Senin dan dimulai dari jam tujuh malam sampai jam sembilan
malam.
“Enggak!
Gue kan udah bilang sama lo dan pengurus Persekutuan Oikumene lainnya, kalau
gue enggak mau berhubungan lagi dengan persekutuan itu. Semua pengurusnya
munafik. Sok mengatur hidup orang. Memangnya mereka itu siapa sampai sok
menasehati gue!”
Amarah, emosi, sedih berkecamuk di hati Helen.
Rasa sakit dihatinya begitu menguasai diri Helen.
“Kok
lo ngomong kayak gitu sih,
Len?” tanya Alice lirih.
“Al,
lo enggak akan pernah tahu apa yang gue rasakan sekarang, karena lo belum
mengalaminya. Seminggu yang lalu, Kak Deva nasehatin gue kalau gue enggak boleh
lari dari masalah yang gue hadapi sekarang. Lo kan tahu kalau saat ini kondisi
ekonomi keluarga gue lagi menurun. Perusahaan tempat papa bekerja sedang
melakukan rekonsiliasi karyawan. Jabatan Papa di kantor pun terancam hilang
karena Papa difitnah melakukan korupsi. Akhir-akhir ini Mama dan Papa sering
cekcok mulut. Kalau sudah kayak gitu, biasanya gue langsung keluar dari rumah.
Hampir sejam lebih gue dinasehatin Kak Deva. Dia bilang kalau keputusan gue
keluar dari kepengurusan dan pelayanan Persekutuan Oikumene ini adalah
keputusan yang salah. Seharusnya dia enggak berhak ngomong gitu ke gue!” isak Helen
Alice menatap mata sahabatnya itu yang sudah sembab dan menghapus air
mata di wajahnya.
“Helen, walau gue enggak
mengerti sepenuhnya dengan apa yang lo rasakan saat ini, tapi satu hal yang
harus lo ingat, kalau lo enggak berhak buat sakit hati ke orang lain. Belajar
untuk mengampuni orang yang sudah buat kita kecewa itu bukti kalau kita
mengasihi orang tersebut. Memang sangat sulit dan tidak seperti membalikan
telapak tangan, tapi itulah yang diajarkan Tuhan kepada kita,” terang Alice.
“Gue
mau tanya sama lo, apa Tuhan pernah menyimpan rasa sakit hatiNya kepada orang
yang mengkhianati dan menganiaya Dia? Sebaliknya, Dia malah mengampuni dan
mendoakan orang tersebut. Padahal kita sering banget secara enggak sadar
menyakiti hati Tuhan. Dia ingin supaya kita menjadi teladan bagi orang lain. Bagaimana
pun keadaan kita dan apapun yang kira rasakan, Tuhan tahu kok apa yang kita
rasakan. Bahkan di saat kita tidak mampu untuk menghadapinya, Tuhan selalu ada
untuk menggendong dan merangkul hidup kita sehingga kita mampu untuk
menghadapinya.”
“Deg!”
Kata-kata Alice, sahabatnya itu sangat menampar diri Helen.
Helen sadar sikapnya itu telah melukai orang yang begitu mengasihinya terlebih
Bapa disurga.
“Gue enggak akan maksa lo untuk datang ke persekutuan.
Tapi sebagai satu tubuh kristus kita berhak untuk saling menasehati satu sama
lain.
Alice pergi meninggalkan Helen seorang diri di kamar.
“Andaikan ku harus
memilih, tetap hatiku padaMu.
Tak satu pun dapat menggantikanMu selamanya...”
Helen
mendengar lagu itu dari rumah Kak Deva, kakak pembina Persekutan Oikumene yang
merupakan tetangga sekaligus orang yang telah menegurnya dengan keras namun
penuh kasih. Sebuah lagu yang telah menyentuh relung hatinya yang terdalam.
Kini gadis berusia tujuh belas tahun itu menyadari bahwa ia telah melakukan
kesalahan terbesar karena membiarkan akar kepahitan merasuki hatinya.
ooOoo
19.30 pm
Helen memutuskan untuk
ikut dalam Persekutuan tersebut
yang saat ini bertepatan di rumah Kak Deva.. Ia menyeka air matanya agar tidak
kelihatan sembab dan bergegas pergi.
“Ampuni
bila kami tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kami, seperti hati Bapa
mengampuni...,”
Hatinya kembali tergores mendalami
kasih Tuhan. Hidupnya akan terasa hampa jika ia meninggalkan pelayananan karena
rasa sakit hatinya terhadapa seseorasng.
“Cukup.
Gue enggak mau akar kepahitan ini membelenggu hidup gue seumur hidup!” gumam Helen.
Helen sadar bahwa semua yang
dikatakan Kak Deva benar, bahwa dirinya tidak boleh lari dari masalah. “Justru,
kita harus menghadapi masalah itu dengan doa,” kenang Helen.
Selama
kebaktian Persekutuan Oikumene berlangsung, Helen benar-benar meminta ampun
kepada Tuhan dan ia memutuskan untuk meminta maaf kepada Kak Deva, Alice dan
Pengurus Persekutuan Oikumene lainnya.
ooOoo
Tuesday,
05.00 am
“Helen, kamu sudah bangun, Nak?”
tanya seorang wanita setengah baya sembari mengetuk pintu kamar anaknya itu.
“Huammzzz.” Helen menguap
Helen membuka pintu kamarnya dengan
setengah sadar.
“Kenapa, Mam?”
“Puji Tuhan, Nak. Tuhan itu tidak
pernah tidur. Akhirnya kebenaran itu terbuka.”
“Kenapa sih, Mam. Mama jangan buat Helen
penasaran dong!”
“Barusan ada telepon dari kantor
tempat Papa bekerja. Ternyata orang yang menuding Papa korupsi adalah Manajer Keuangan yang selama
ini justru dialah yang membuat rugi perusahaan.”
“Terus, Papa sekarang lagi di mana,
Mam?”
“Papa dari semalam masih di kantor
untuk menyelesaikan masalah itu. Kamu tahu Helen apa yang terjadi?”
“Apa, Mam?” Helen penasaran.
“Papa dipromosikan untuk menjadi Manajer
Keuangan yang baru!”
“Masa sih, Mam?” Helen tersentak
kaget, “terus Manajer Keuangan yang lama bagaimana, Mam?”
“Manajer Keuangan itu sangat
menyesal dengan perbuatannya serta meminta maaf kepada Pimpinan Direksi
khususnya kepada Papa karena telah menuduh Papa korupsi. Dan beliau menyanggupi
untuk mengembalikan semua dana yang telah dipakainya untuk keperluan pribadi.
Direktur Utama dan Direktur Keuangan meminta dengan hormat kepada Papa untuk menggantikan
posisi menjadi Manajer
Keuangan yang baru!” jelas Mama.
Helen tertegun dan memeluk mamanya
dengan mata berkaca-kaca.
“Ya Tuhan, terima kasih. Engkau selalu
mempunyai banyak cara untuk menolong keluarga kami!”
ooOoo