Buscar

Páginas

Wilhelmina Mitan


Gak terasa ya, dua bulan lagi, genap setahun aku bekerja sebagai staff accounting di perusahaan swasta. Suatu perusahaan yang terletak di antara Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

Menjadi seorang accounting adalah pekerjaan yang sangat aku impikan sewaktu masih kecil dulu. Dan, puji Tuhan, impian itu terwujud di tahun 2012, meski dengan perjuangan yang menurutku luar biasa.

Banyak suka dan sedikit dukanya selama aku bekerja di kantor tersebut. Kata orang, segala permasalahan yang terjadi di kantor dapat terselesaikan dengan baik, jika kita mampu mendekatkan diri terhadap masalah tersebut serta mempelajari bagaimana cara mengatasinya. Apalagi, ketika kamu mempunyai seorang teman/sahabat yang mendukung kamu. Semua dapat tuntas, tas..., tas...

Aku juga mempunyai sahabat. Dia gadis yang dewasa (meski usianya tiga tahun di bawah umurku), baik hati, sedikit pemalu, tidak sombong. Dan, dia juga orang yang pertama dengan sabar mengajariku menghitung laporan persediaan cabang yang super duper ribet dan berantakan.

Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Mungkin, karena kami mempunyai banyak kesamaan dan mimpi. Misalnya: sama-sama suka membaca (khususnya novel romantis. hehehe), menulis (apapun itu tulisannya), suka bermimpi (meski masih siang), suka berkreasi sesuatu dengan buatan tangan sendiri (kalung, gantungan kunci, bros, gelang, dll), sama2 mempunyai ide yang sedikit aneh tapi ingin mewujudkannya, pokoknya banyak lagi deh.

Di kantor dia juga mengagumi seseorang pria. Namanya Pangeran Mawar. *hehehehe. Aku ingat, ketika aku berhasil mengambil foto pria tersebut. Saat itu, aku berpapasan dengannya sehabis aku membeli sarapan pagi. Tiba2 ide itu muncul dan...

"Jepret," aku berhasil mengambil fotonya dari belakang.

Sesampainya di kantor, aku langsung bercerita dengan sahabatku, bahwa aku telah berhasil mengambil fotonya. Dan kamu tahu, sahabatku langsung tersenyum paling manis yang ia punya.

Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin kuceritakan panjang lebar tentang dirinya. Tapi, mengingat sebentar lagi closing, mau tidak mau, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Semangad


-mwsar













"Kue kacang kering"



 Bahan-bahan :

1 kg tepung terigu (kunci biru atau roda biru)

500 gr gula halus atau secukupnya
500 gr kacang tanah sangrai tumbuk (jangan terlalu halus)

500 gr minyak goreng (yang berkualitas)


1 sdt vanili bubuk


kuning telur untuk olesan
garam, secukupnya.


Cara Membuat:

Ayak gula halus dan terigu, masukkan vanili, kacang tumbuk, minyak goreng, aduk hingga rata.

Gilas adonan setebal kira-kira 5 mm (bisa lebih tapi jangan terlalu tipis).

Cetak sesuai selera, bisa berupa bulan sabit, bintang, hati atau yang lain.

Taruh diloyang yang diolesi mentega, olesi bagian atas dengan kuning telur, panggang sampai matang 150 derajat celcius selama kira-kira 15-20 menit.

Sewaktu masih dalam keadaan panas, kue terasa agak lembek namun setelah di dinginkan nanti tidak lembek lagi. Selamat mencoba yaa...
1 kg tepung terigu (kunci biru atau roda biru)
500 gr gula halus (menurutku dengan takaran segitu kurang manis, jadi bisa ditambah)
500 gr kacang tanah sangrai tumbuk
500 gr minyak goreng (yang berkualitas)
1 sdt vanili bubuk
kuning telur untuk olesan
Cara Membuat:
Ayak gula halus dan terigu, masukkan vanili, kacang tumbuk, minyak goreng, aduk hingga rata. gilas adonan setebal kira-kira 5 mm (bisa lebih tapi jangan terlalu tipis), cetak sesuai selera, bisa berupa bulan sabit, bintang, hati atau yang lain.  Taruh diloyang yang diolesi mentega, olesi bagian atas dengan kuning telur, panggang sampai matang 150 derajat celcius selama kira-kira 15-20 menit
Sewaktu masih dalam keadaan panas, kue terasa agak lembek namun setelah di dinginkan nanti tidak lembek lagi.  Jika ingin mencoba, buatlah setengah resep kue kering kacang dahulu. Selamat berkreasi - See more at: http://hwloverz.blogspot.com/2013/06/resep-kue-kering-kacang-lebaran.html#sthash.VoUdi7xe.dpuf
1 kg tepung terigu (kunci biru atau roda biru)
500 gr gula halus (menurutku dengan takaran segitu kurang manis, jadi bisa ditambah)
500 gr kacang tanah sangrai tumbuk
500 gr minyak goreng (yang berkualitas)
1 sdt vanili bubuk
kuning telur untuk olesan
Cara Membuat:
Ayak gula halus dan terigu, masukkan vanili, kacang tumbuk, minyak goreng, aduk hingga rata. gilas adonan setebal kira-kira 5 mm (bisa lebih tapi jangan terlalu tipis), cetak sesuai selera, bisa berupa bulan sabit, bintang, hati atau yang lain.  Taruh diloyang yang diolesi mentega, olesi bagian atas dengan kuning telur, panggang sampai matang 150 derajat celcius selama kira-kira 15-20 menit
Sewaktu masih dalam keadaan panas, kue terasa agak lembek namun setelah di dinginkan nanti tidak lembek lagi.  Jika ingin mencoba, buatlah setengah resep kue kering kacang dahulu. Selamat berkreasi - See more at: http://hwloverz.blogspot.com/2013/06/resep-kue-kering-kacang-lebaran.html#sthash.VoUdi7xe.dpuf
1 kg tepung terigu (kunci biru atau roda biru)
500 gr gula halus (menurutku dengan takaran segitu kurang manis, jadi bisa ditambah)
500 gr kacang tanah sangrai tumbuk
500 gr minyak goreng (yang berkualitas)
1 sdt vanili bubuk
kuning telur untuk olesan
Cara Membuat:
Ayak gula halus dan terigu, masukkan vanili, kacang tumbuk, minyak goreng, aduk hingga rata. gilas adonan setebal kira-kira 5 mm (bisa lebih tapi jangan terlalu tipis), cetak sesuai selera, bisa berupa bulan sabit, bintang, hati atau yang lain.  Taruh diloyang yang diolesi mentega, olesi bagian atas dengan kuning telur, panggang sampai matang 150 derajat celcius selama kira-kira 15-20 menit
Sewaktu masih dalam keadaan panas, kue terasa agak lembek namun setelah di dinginkan nanti tidak lembek lagi.  Jika ingin mencoba, buatlah setengah resep kue kering kacang dahulu. Selamat berkreasi - See more at: http://hwloverz.blogspot.com/2013/06/resep-kue-kering-kacang-lebaran.html#sthash.VoUdi7xe.dpuf

"Kue Bawang"


Bahan – bahan :

  1. Tepung terigu
  2. Telur ayam
  3. Mentega cair
  4. Daun seledri yang dicincang halus
  5. Bawang merah yang dihaluskan
  6. Bawang putih yang dihaluskan
  7. Garam
  8. Merica
  9. Pengembang
  10. Penyedap rasa

Cara Membuat :

  1.  Campurkan tepung dengan telur ayam dan mentega cair kemudian aduklah hingga benar-benar merata dengan mesin adonan.
  2. Jika sudah tercampur rata, masukan seledri, bawang merah dan bawang putih halus sedikit demi sedikit.
  3. Kemudian tambahkan bumbu dan sedikit air sambil terus diaduk hingga rata dan kalis.
  4. Setelah jadi, adonan didiamkan selama + 30 menit.
  5. Untuk proses pembuatan, tipiskan adonan kue bawang bisa dengan alat penggiling hingga bisa masuk ke mesin pencetak selanjutnya.
  6. Potong-potonglah adonan yang sudah tipis, dengan pisau untuk yang kotak dan dengan penggiling mie untuk yang bentuk stik.
  7. Gorenglah hingga mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan.
  8.  Angkat kemudian tiriskan.
  9. Setelah kue bawang dingin, masukan kedalam toples dan siap untuk dihidangkan.

"All about you"


Dia tidak tampan. Kadang menjadi orang yang paling menyebalkan. Tetapi, entah kenapa, hatiku mencintainya tanpa alasan yang tidak dapat kumengerti.

Pertemuan kami berawal  satu setengah tahun yang lalu. Tepatnya di bulan Februari 2012. Di mana saat itu, aku masih bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta Timur. Dia merupakan karyawan proyek yang bertugas di proyek PLN Gunung Sahari di Jakarta. Mengingat pekerjaan tersebut telah selesai dikerjakan, akhirnya ia dan beberapa orang lainnya dipanggil untuk datang ke kantor pusat.

Pertama kali aku bertemu dengannya, semua serba biasa saja. Tidak ada rasa bergetar sewaktu mata kami bertemu. Berbicara pun kami jarang, kalau tidak mengenai pekerjaan saja.

Di divisi teknik, aku mempunyai teman kerja yang bernama Ika. Ia merupakan seorang teman, sahabat bahkan adik, tempat kuberbagi cerita tentang kehidupan, pekerjaan dan cerita lainnya. Ia begitu bersahabat dengan yang lainnya, termasuk dengan pria itu. Lama-kelamaan, hubungan mereka semakin akrab, tak heran jika orang di kantor menganggap mereka seperti orang berpacaran.

Hari demi hari berganti, aku yang tadinya sebatas berbicara mengenai pekerjaan, akhirnya dapat bercanda dengan pria itu. Entah bagaimana ceritanya, aku pun tidak mengerti, akhirnya hubungan aku dengannya semakin akrab. Sangat akrab dan masih sebatas teman. Setiap pagi, ia menjemputku dengan motor yang dia miliki. Dan sepulang dari kantor pun, ia mengantarkanku pulang. Lama-kelamaan kedekatan hubungan kami membuatku mulai menyukainya.

Bulan Juli 2012, akhirnya aku dengannya resmi "berpacaran." Kadang, aku bertanya, apakah aku benar-benar mencintainya? Karena selama ini, aku hanya memikirkan mengenai pekerjaan, mimpi dan pendidikanku. Namun, ia datang dan mempercayakan diriku sebagai wanitayang dipilihnya.

Aku teringat akan pembicaraan teman-teman di kampus dan beberapa sahabat di kantor. Mereka pernah bilang, bahwa aku harus merubah sedikit sifatku yang terlalu cuek terutama dalam hubungan maupun penampilan. Mungkin, itu juga yang pernah membuat pria itu menganggap aku tidak serius dengannya. Padahal, aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus kuperbuat dalam berpacaran. Karena, aku baru pertama kali benar-benar serius berpacaran, biasanya aku hanya menyukai atau mengagumi seseorang saja, yang kemudian aku pendam dan kubiarkan hilang terbawa waktu dengan sendirinya.

 Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari, bahwa aku benar-benar mencintainya. Dia adalah pilihan pertama dan terakhir yang ingin kumiliki seutuhnya. Meski, semua keputusan diatur oleh Tuhan.

Dia adalah pria yang begitu dewasa, meski umur kami terpaut sembilan tahun. Entah, bagaimana menjelaskan sosok pria itu. Yang pasti, saat ini, aku bahagia bersamanya. Dia, Fernando, orang yang kusayang.


-mwsar





"Mencintaimu lebih dari itu"


Aku ingin mencintaimu seperti pagi.
Tanpa mengenal lelah, 
selalu memberikan pengharapan akan hari ini dan nanti.

Aku ingin mencintaimu terus-menerus.
Seperti air yang tanpa bertanya,
selalu memberikan alirannya kepada tanah kering.

Aku ingin selalu melukis senyummu di hidupku.
Lewat cerita yang kembali terlewati tanpamu,
lewat suara yang setiap hari saling menyapa,
lewat tatapan, meski tanpa pertemuan.
Aku ingin mencintaimu, lebih dari itu.


-mwsar

By Me - "JejakMu, Tuhan"



Monday, 18.30 pm

          Helen menutup pintu kamarnya dengan keras dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Sesekali ia melirik ke arah jarum jam di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Hembusan angin malam menilik masuk ke lorong jendela kamar miliknya yang sedang termenung sambil mencoret-coret buku tulis miliknya dengan guratan emosi yang kapan saja bisa meledak.
“Tok, tok, tok.” Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk. Enggak dikunci!”
“Tok, tok, tok.”
Helen mengerutkan keningnya. Dengan jengkel, ia beranjak ke arah pintu kamarnya.
“GUE KAN UDAH BILANG KALAU PINTU ENGGAK DIKUNCI. TINGGAL MASUK AJA, KOK SUSAH BANGET SIH!” jawab Helen ketus.
 Alice tersentak kaget. Sahabat sejak kecilnya sesaat terdiam mendengar celotehan Helen.
“Sorry Al, gue kira siapa tadi,” sesal Helen.
Enggak papa. Maaf, kalau gue datang di saat yang kurang tepat. Gue cuma mau mengajak lo untuk datang ke Persekutuan Oikumene. Lo datang kan, Helen?” ajak Alice.
Persekutuan Oikumene merupakan sebuah kumpulan muda-mudi di sekitar jalan Perintis. Persekutuan ini biasanya diadakan setiap hari Senin dan dimulai dari jam tujuh malam sampai jam sembilan malam.
“Enggak! Gue kan udah bilang sama lo dan pengurus Persekutuan Oikumene lainnya, kalau gue enggak mau berhubungan lagi dengan persekutuan itu. Semua pengurusnya munafik. Sok mengatur hidup orang. Memangnya mereka itu siapa sampai sok menasehati gue!”
 Amarah, emosi, sedih berkecamuk di hati Helen. Rasa sakit dihatinya begitu menguasai diri Helen.
“Kok lo ngomong kayak gitu sih, Len?” tanya Alice lirih.
“Al, lo enggak akan pernah tahu apa yang gue rasakan sekarang, karena lo belum mengalaminya. Seminggu yang lalu, Kak Deva nasehatin gue kalau gue enggak boleh lari dari masalah yang gue hadapi sekarang. Lo kan tahu kalau saat ini kondisi ekonomi keluarga gue lagi menurun. Perusahaan tempat papa bekerja sedang melakukan rekonsiliasi karyawan. Jabatan Papa di kantor pun terancam hilang karena Papa difitnah melakukan korupsi. Akhir-akhir ini Mama dan Papa sering cekcok mulut. Kalau sudah kayak gitu, biasanya gue langsung keluar dari rumah. Hampir sejam lebih gue dinasehatin Kak Deva. Dia bilang kalau keputusan gue keluar dari kepengurusan dan pelayanan Persekutuan Oikumene ini adalah keputusan yang salah. Seharusnya dia enggak berhak ngomong gitu ke gue!” isak Helen
Alice menatap mata sahabatnya itu yang sudah sembab dan menghapus air mata di wajahnya.
Helen, walau gue enggak mengerti sepenuhnya dengan apa yang lo rasakan saat ini, tapi satu hal yang harus lo ingat, kalau lo enggak berhak buat sakit hati ke orang lain. Belajar untuk mengampuni orang yang sudah buat kita kecewa itu bukti kalau kita mengasihi orang tersebut. Memang sangat sulit dan tidak seperti membalikan telapak tangan, tapi itulah yang diajarkan Tuhan kepada kita,” terang Alice.
“Gue mau tanya sama lo, apa Tuhan pernah menyimpan rasa sakit hatiNya kepada orang yang mengkhianati dan menganiaya Dia? Sebaliknya, Dia malah mengampuni dan mendoakan orang tersebut. Padahal kita sering banget secara enggak sadar menyakiti hati Tuhan. Dia ingin supaya kita menjadi teladan bagi orang lain. Bagaimana pun keadaan kita dan apapun yang kira rasakan, Tuhan tahu kok apa yang kita rasakan. Bahkan di saat kita tidak mampu untuk menghadapinya, Tuhan selalu ada untuk menggendong dan merangkul hidup kita sehingga kita mampu untuk menghadapinya.”
“Deg!”
            Kata-kata Alice, sahabatnya itu sangat menampar diri Helen. Helen sadar sikapnya itu telah melukai orang yang begitu mengasihinya terlebih Bapa disurga.
            “Gue enggak akan maksa lo untuk datang ke persekutuan. Tapi sebagai satu tubuh kristus kita berhak untuk saling menasehati satu sama lain.
            Alice pergi meninggalkan Helen seorang diri di kamar.
            Andaikan ku harus memilih, tetap hatiku padaMu. Tak satu pun dapat menggantikanMu selamanya...”
            Helen mendengar lagu itu dari rumah Kak Deva, kakak pembina Persekutan Oikumene yang merupakan tetangga sekaligus orang yang telah menegurnya dengan keras namun penuh kasih. Sebuah lagu yang telah menyentuh relung hatinya yang terdalam. Kini gadis berusia tujuh belas tahun itu menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar karena membiarkan akar kepahitan merasuki hatinya.

ooOoo
19.30 pm

            Helen memutuskan untuk ikut dalam Persekutuan tersebut yang saat ini bertepatan di rumah Kak Deva.. Ia menyeka air matanya agar tidak kelihatan sembab dan bergegas pergi.
            “Ampuni bila kami tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kami, seperti hati Bapa mengampuni...,”
        Hatinya kembali tergores mendalami kasih Tuhan. Hidupnya akan terasa hampa jika ia meninggalkan pelayananan karena rasa sakit hatinya terhadapa seseorasng.
            “Cukup. Gue enggak mau akar kepahitan ini membelenggu hidup gue seumur hidup!” gumam Helen.
            Helen sadar bahwa semua yang dikatakan Kak Deva benar, bahwa dirinya tidak boleh lari dari masalah. “Justru, kita harus menghadapi masalah itu dengan doa,” kenang Helen.
            Selama kebaktian Persekutuan Oikumene berlangsung, Helen benar-benar meminta ampun kepada Tuhan dan ia memutuskan untuk meminta maaf kepada Kak Deva, Alice dan Pengurus Persekutuan Oikumene lainnya.

ooOoo

Tuesday, 05.00 am

            “Helen, kamu sudah bangun, Nak?” tanya seorang wanita setengah baya sembari mengetuk pintu kamar anaknya itu.
            “Huammzzz.” Helen menguap
            Helen membuka pintu kamarnya dengan setengah sadar.
            “Kenapa, Mam?”
            “Puji Tuhan, Nak. Tuhan itu tidak pernah tidur. Akhirnya kebenaran itu terbuka.”
            “Kenapa sih, Mam. Mama jangan buat Helen penasaran dong!”
            “Barusan ada telepon dari kantor tempat Papa bekerja. Ternyata orang yang menuding Papa korupsi adalah Manajer Keuangan yang selama ini justru dialah yang membuat rugi perusahaan.”
            “Terus, Papa sekarang lagi di mana, Mam?”
            “Papa dari semalam masih di kantor untuk menyelesaikan masalah itu. Kamu tahu Helen apa yang terjadi?”
            “Apa, Mam?” Helen penasaran.
            “Papa dipromosikan untuk menjadi Manajer Keuangan yang baru!”
            “Masa sih, Mam?” Helen tersentak kaget, “terus Manajer Keuangan yang lama bagaimana, Mam?”
          “Manajer Keuangan itu sangat menyesal dengan perbuatannya serta meminta maaf kepada Pimpinan Direksi khususnya kepada Papa karena telah menuduh Papa korupsi. Dan beliau menyanggupi untuk mengembalikan semua dana yang telah dipakainya untuk keperluan pribadi. Direktur Utama dan Direktur Keuangan meminta dengan hormat kepada Papa untuk menggantikan posisi menjadi Manajer Keuangan yang baru!” jelas Mama.
            Helen tertegun dan memeluk mamanya dengan mata berkaca-kaca.
        “Ya Tuhan, terima kasih. Engkau selalu mempunyai banyak cara untuk menolong keluarga kami!”

ooOoo