Dia tidak tampan. Kadang menjadi orang yang paling menyebalkan. Tetapi, entah kenapa, hatiku mencintainya tanpa alasan yang tidak dapat kumengerti.
Pertemuan kami berawal satu setengah tahun yang lalu. Tepatnya di bulan Februari 2012. Di mana saat itu, aku masih bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta Timur. Dia merupakan karyawan proyek yang bertugas di proyek PLN Gunung Sahari di Jakarta. Mengingat pekerjaan tersebut telah selesai dikerjakan, akhirnya ia dan beberapa orang lainnya dipanggil untuk datang ke kantor pusat.
Pertama kali aku bertemu dengannya, semua serba biasa saja. Tidak ada rasa bergetar sewaktu mata kami bertemu. Berbicara pun kami jarang, kalau tidak mengenai pekerjaan saja.
Di divisi teknik, aku mempunyai teman kerja yang bernama Ika. Ia merupakan seorang teman, sahabat bahkan adik, tempat kuberbagi cerita tentang kehidupan, pekerjaan dan cerita lainnya. Ia begitu bersahabat dengan yang lainnya, termasuk dengan pria itu. Lama-kelamaan, hubungan mereka semakin akrab, tak heran jika orang di kantor menganggap mereka seperti orang berpacaran.
Hari demi hari berganti, aku yang tadinya sebatas berbicara mengenai pekerjaan, akhirnya dapat bercanda dengan pria itu. Entah bagaimana ceritanya, aku pun tidak mengerti, akhirnya hubungan aku dengannya semakin akrab. Sangat akrab dan masih sebatas teman. Setiap pagi, ia menjemputku dengan motor yang dia miliki. Dan sepulang dari kantor pun, ia mengantarkanku pulang. Lama-kelamaan kedekatan hubungan kami membuatku mulai menyukainya.
Bulan Juli 2012, akhirnya aku dengannya resmi "berpacaran." Kadang, aku bertanya, apakah aku benar-benar mencintainya? Karena selama ini, aku hanya memikirkan mengenai pekerjaan, mimpi dan pendidikanku. Namun, ia datang dan mempercayakan diriku sebagai wanitayang dipilihnya.
Aku teringat akan pembicaraan teman-teman di kampus dan beberapa sahabat di kantor. Mereka pernah bilang, bahwa aku harus merubah sedikit sifatku yang terlalu cuek terutama dalam hubungan maupun penampilan. Mungkin, itu juga yang pernah membuat pria itu menganggap aku tidak serius dengannya. Padahal, aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus kuperbuat dalam berpacaran. Karena, aku baru pertama kali benar-benar serius berpacaran, biasanya aku hanya menyukai atau mengagumi seseorang saja, yang kemudian aku pendam dan kubiarkan hilang terbawa waktu dengan sendirinya.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari, bahwa aku benar-benar mencintainya. Dia adalah pilihan pertama dan terakhir yang ingin kumiliki seutuhnya. Meski, semua keputusan diatur oleh Tuhan.
Dia adalah pria yang begitu dewasa, meski umur kami terpaut sembilan tahun. Entah, bagaimana menjelaskan sosok pria itu. Yang pasti, saat ini, aku bahagia bersamanya. Dia, Fernando, orang yang kusayang.


2 komentar:
Bingung mau komen apaan...
(:
Posting Komentar